Waktu

Oktober 27, 2010 oleh Dodi Kurniawan |

Sebuah seloroh tua menyiratkan hubungan waktu dengan manusia. Konon, seorang guru ditanya sama muridnya tentang apa yang dikerjakan oleh Tuhan sebelum Dia menciptakan waktu. Dengan ketus sang guru menjawab bahwa Tuhan sedang menciptakan neraka untuk ciptaan-Nya yang mengajukan pertanyaan seperti ini.

Santo Agustinus, sebagaimana dikatakan Stephen Hawking, konon memberikan jawaban yang berbeda dari sang guru dalam kelakar tua tadi. Namun, tetap–meski gaya penuturan Hawking menyediakan ruang untuk sebuah senyum simpul–waktu adalah tiran bagi mereka yang lemah di hadapannya.

Trend yang bersifat retrospektif begitu fenomenal mulai dari fashion, musik dan sebagainya mewarnai keseharian kita. Contoh kegandrungan terhadap retro yang mudah diamati adalah Naif (band eksentrik asal negeri kita), sampai-sampai mereka membuat album dengan tajuk Retropolis. Dunia sains pun tidak ketinggal terpapar virus retro ini. Wisata kala (baca: time travel) menunjukkan kegandrungan manusia akan masa lalu.

Lalu ada apa dibalik fenomena ini?

Sederhananya ada dua. Pertama, adalah lebih mudah mengingat kembali apa yang sudah terjadi ketimbang membayangkan sesuatu yang belum pernah terjadi. Pengalaman adalah sumber pengetahuan kita (masih ingat kan pepatah pengalaman adalah guru yang utama?)

Kedua, diam-diam kita ingin melawan waktu. Kegandrungan kita akan masa lalu mengisyarahkan kekesalan kita terhadap waktu. Perjalanan membalik waktu merupakan perlawanan terhadap keniscayaannya. Malah, dalam beberapa bahasa (harap dicatat bahwa bahasa adalah ekspresi kedalam manusia lho), waktu tergambar jelas posisinya dalam perspektif kita–kekaguman sekaligus kebencian (atau setidaknya ketakutan). Untuk mengungkapkan kondisi dimana seseorang harus mengisi waktu, orang Inggris menggunakan kata-kata killing time; orang Arab menggunakan kalimat al-waqtu ka al-saif (waktu itu seperti pedang) untuk mengingatkan kita agar efisien dalam menggunakan waktu; atau, ketika menggambarkan betapa beratnya menunggu (menunggu adalah sejumlah waktu yang harus dilewati sebelum seseorang menjalani sesuatu yang direncanakan) orang Arab menggambarkannya dalam kata-kata: al-intizhar aharr min al-nar (menunggu itu lebih panas daripada api). Inikah ekspresi ketidaksenangan kita terhadap sang waktu?

Barangkali tidak sepenuhnya selalu begitu. Sejak manusia itu makhluk yang paling mendapat tanggung jawab berkenaan dengan waktu, maka kekaguman sekaligus kebencian atau harapan sekaligus ketakutan terhadapanya bergantung kepada kualitas hubungan manusia dengan waktu. Bukankah kita juga pernah mendengar kata-kata penuh harap seperti ini: ‘semoga waktu menyembuhkan luka perasaannya’ atau ‘biarlah waktu yang akan membuktikannya’.

Tidak ada yang perlu dipersalahkan atas kerinduan kita kepada masa lalu yang indah, sebagaimana tidak ada yang salah dengan penyesalan kita atas betapa buruknya apa yang telah kita perbuat dalam waktu yang tengah kita jalani. Barangkali yang harus kita hindari berkenaan dengan waktu adalah sikap pengingkaran.Waktu boleh jadi tiran. Tetapi yang pasti ia sangat konsisten. Untuk aturan bumi, tempat dimana kita tinggal di atasnya misalnya, 24 jam adalah tetapan waktu sehari bagi semua dan setiap manusia yang diberikan sang kala. Lalu kita melihat betapa beragamnya hasil yang diperlihatkan oleh manusia dengan 24 jam ini. Sebagian orang menemukan Tuhan-nya, beberapa orang lainnya melakukan sesuatu yang teramat luar biasa untuk kemaslahatan sesaman mereka, serta beberapa orang justru melakukan sesuatu yang teramat mengerikan terhadap diri mereka atau sesama mereka. Bukankah waktu yang berikan dalam seharinya sama-sama 24 jam?

Waktu juga bisa sangat subjektif. Nah, dalam subjektivitas waktu inilah barangkali seseorang bisa melakukan perjalanan waktu dan yang sangat luarbiasanya lagi kita tidak memerlukan alat atau perangkat lain untuk melakukan itu semua. Tubuh manusia adalah perangkat sempurna untuk melakukan perjalanan waktu. Beberapa pembaca sudah dapat menerka kemana arah pemikiran penulis, dan bila itu terjadi penulis akan sangat merasa puas. Dengan alasan itu pula penulis dapat mengakhiri tulisannya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: