Time Travel

Desember 12, 2009 oleh Dodi Kurniawan

Terlepas dari boleh jadi atau boleh tidak jadinya perjalanan waktu menurut instrumen keilmuan kita, time travel bagaimanapun merupakan suatu hal yang paling menantang.

Steven Hawking, the living legend of physics, pernah bersoloroh bahwa tidak adanya catatan tentang turis mancakala (maaf ini hanya istilah penulis saja), baik dari masa lalu ataupun masa depan dimasa kita sekarang menjadi bukti terlarangnya perjalanan waktu.

Disadari ataupun tidak time travel adalah sebuah konsep yang lahir dari sebuah pengingkaran. Penafian atas ketidaksiapan kita sebagai manusia mengikuti ketentuan hidup. Terlepas dari sifat penasaran manusia yang luar biasa, konsep time travel lebih dilantarankan sebuah upaya untuk menghindari konsekuensi perbuatannya. Dalam ranah spiritualitas, kecendrungan ini membuktikan adanya kecenderungan manusia untuk bertaubat. Perasaan bersalah merupakan syarat pertobatan.

Kalaupun perjalanan waktu itu dapat dilakukan, maka mestinya tidak ada hukum yang terlanggar. Sejarah tidak boleh dikacaukan. Time travel barangkali lebih tepat ditujukan kepada upaya manusia (kalaupun ada) untuk mengatasi tantangan jembarnya semesta. Bila jarak satu tempat ke tempat lainnya di jagat ini sejauh 1 milyar tahun cahaya saja, maka susah bagi kita membayangkan adanya manusia yang mampu mencapai usia selanjut itu, bukan?

Lipatan waktu (dipopulerkan dalam Star Trek dengan kecepatan Warp), penerapan teknik hibernasi (meniru beruang kutub dkk) atau bahkan telepati, dilontarkan beberapa ahli untuk mengakali terlalu luasnya jagat raya. Selama perjalan waktu tidak melanggar harmoni, maka itu diperbolehkan oleh hukum alam. Dan sebaliknya, bila mengakibatkan disharmoni dan anakronisme, maka hukum alam akan melarangnya sebagai penghujatan.

Upaya rekonsiliasi kemungkinan yang bersitentang berkenaan dengan time travel ini pernah dikemas dalam sebuah film lucu bergenre scifi, Back to the Future. Tapi, upaya ini tetap saja sia-sia. Atau, dalam film the One misalnya, satu entitas manusia berupaya melenyapkan ‘dia’ yang lain di semesta lainnya untuk mengukuhkan satu ‘dia’ disemua semesta pun tetap menimbulkan kerancuan (padahal Steven Hawking pernah mengisyarahkan kebolehjadian time travel lintas semesta dalam sebuah multiverses).

Walhasil, kita harus melupakan time travel (bila itu seperti yang difahami secara awam), tapi tetaplah berharap. Sebab, time travel is allowed as far as it’s allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: