Atlantis: Satu Nama untuk Seribu Kota

Desember 25, 2009 oleh Dodi Kurniawan

Konon Plato-lah yang mempopulerkan kota kenangan ini. Barangkali kota idaman ini merupakan salahsatu kota yang paling banyak dibicarakan bahkan oleh mereka yang samasekali tidak mempercayainya.

Akhir-akhir ini, sebuah teori membawa Indonesia kedalam lingkar pembicaraan tentang kemungkinan sebagai kota hilang tersebut. Prof. Arysio, ilmuwan asal Brasil tidak tanggung-tanggung menghabiskan penelitian selama 30 tahunan untuk sampai kepada kesimpulan yang membuat atlantian Indonesia – terlebih lagi bagi para peyakin eksistensi bangsa Sunda primordial – bersorak sorai.

Saya sendiri, jujur saja, tidak terlalu heboh untuk menerima kenyataan kalau saja benar Indonesia adalah kota idaman tersebut. Mengapa demikian? Soalnya saya sendiri punya teori sendiri bahwa Atlantis itu adalah sebuah kota stereotif, sebuah simbol dari kota-kota sejenis yang memiliki sejarah mencengangkan dengan akhir yang mengenaskan. Kata the lost yang biasa dilekatkan pada Atlantis lebih tepat diartikan sebagai the vanished alias yang dilenyapkan. Terkesan seperti legenda kuno, tapi bisa dipastikan bahwa mereka adalah penghujat para Nabi Tuhan yang diutus ditengah-tengah mereka.

Pendekatan saya terkesan ortodoks agamis. Tapi, untuk sebuah entitas yang hipotetis seperti ini saya kira sah-sah saja. Sebab, untuk ekstraterestrialist seperti Von Daniken misalnya, bisa jadi penduduk Altlantis adalah murid-murid tersayang ‘guru jagat’, sekelompok alien pengelana semesta yang mengajarkan kepada manusia peradaban, tetapi karena mereka berbuat nirca maka sang guru jagat pun murka lalu melenyapkan mereka.

Bagi para pragmatist, jauh lebih sederhana lagi: mereka adalah sebatas korban fenomena alam biasa. Ya, korban efek samping dari aktivitas kulit bumi.

Kembali kepada pendekatan saya tadi, Atlantis bisa saja merujuk kepada sembarang kota dengan kategori berperadaban mumpuni namun ingkar. Pilar-pilar Herkules yang biasa dijadikan ciri Atlantis, bisa saja merujuk kepada benteng, tugu ataupun sejenis tembok yang lazim dibangun untuk menambah agungnya sebuah kota. Atlantis barangkali adalah sebuah istilah generik seperti halnya setan, surga dan neraka. Sebuah nama untuk seribu kota.

Alhasil, terlepas dimana sejatinya Atlantis itu terpendam, yang penting adalah mencari tahu mengapa penduduk kota tersebut  berakhir mengenaskan. Sebuah pemikiran yang ironis untuk berbesar hati bahwa kita tidak akan mengalami nasib serupa hanya karena bangsa kita tidak berperadaban tinggi; di lain pihak, tentu saja merupakan sebuah kenaifan untuk berpikir bahwa kita bisa menyelamatkan diri kita dari nasib serupa dengan hanya mengandalkan tingginya peradaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: