Vox Populi Vox Dei

September 4, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Nah, kali ini ayah saya ngirim sms berisi: “Apa sih maksud suara rakyat adalah suara Tuhan itu?”

Bila saja berhadapan langsung maka akan saya balik tanya: “Lalu kalau menurut Bapak siapa yang berhak menyuarakan suara Tuhan?”

Rasanya jawaban ayah saya akan mudah untuk ditebak. Namun, saya mencoba untuk menjauhi sikap menebak-nebak kali ini dan lebih memilih mencoba untuk menjawabnya.

Rakyat itu mirip anak kecil: naif. Oleh sebab itu, di satu sisi – dan ini merupakan sisi gelapnya – mereka selalu jadi sasaran empuk para politikus – yang mana penekanannya lebih pada suku kata terakhir ‘tikus’.

Sejak rakyat itu lemah dan naif, maka Tuhan lebih dekat kepadanya. Betapa tidak, sorga yang secara simbolis tempat kedekatan dengan Tuhan menurut Nabi saw. dipenuhi oleh orang-orang miskin [yang umumnya adalah rakyat] alih-alih orang-orang kaya [yang umumnya adalah bukan-rakyat].

Kemudian siapa yang memberikan [kesempatan] kepada seseorang untuk berkuasa? Rakyat. Suara siapakah yang mengantarkan seseorang kepada tampuk kepemimpinan? Rakyat.

Bukankah Tuhan yang memberikan dan mencabut kembali kekuasaan itu? Tinjauan ini menguak sedikit celah bagi kita untuk memahami maksud dari sebuah hadits Sayyidul qaumi khaadimuhum – seorang pemimpin dari satu kaum [hakikatnya] adalah pelayan kaum [itu sendiri]. Bukankah majikan yang sejati adalah Tuhan?

Tapi, dalam bingkai demokrasi kini, vox populi vox dei tinggal sebatas slogan belaka. Mereka – dan tentu saja kata ganti ‘mereka’ samasekali bukan untuk rakyat – menggunakan vox populi vox dei untuk menjustifikasi slogan populer turunannya yakni might is right. Dalam bingkai ini: jual beli suara, money politic, black campaign serta seabrek keburukan lainnya merupakan fenomena yang lumrah – layaknya anak haram dalam demokrasi. Dan untuk semua yang bersifat buruk, maka Tuhan jauh darinya. Kesimpulannya: karena Tuhan dekat dengan rakyat, maka konsekuensi logisnya bukan lagi rakyat yang bersuara dalam sistem seperti itu. Slogan yang tepat untuk kondisi seperti itu barangkali adalah vox populi vox rex – suara [sebagian besar yang mengatasnamakan] rakyat adalah suara [yang dibeli untuk mengantarkan seseorang kepada tahta] raja.

Kekuatan di balik rakyat yang sejati ini teramat ditakuti oleh siapapun yang menyadarinya. Mereka yang melihatnya dari sudut pandang positif maka melahirkan kepemimpinan yang menempatkan kesejahteraan rakyatnya sebagai prioritas utama. Sejarah dengan senang hati mencatatnya sebagai raja atau penguasa yang bijak bestari. Hadhrat Umar bin Khaththab r.a. – selain tentu saja guru besar beliau yakni Hadhrat Rasulullah saw. – merupakan salahsatu  figur utama untuk kelompok ini.

Sebaliknya, mereka yang melihatnya dari sisi negatif maka lahirlah kepemimpinan yang tiran. Alih-alih menempatkan amanah rakyat sebagai titah Tuhan, kelompok terakhir ini malah mengakalinya dengan cara menjadikan diri mereka sendiri ‘tuhan’. Tridenta Fir’aun, Hamman dan Qarun merupakan figur populer kelompok ini.

Terima kasih ayah atas pertanyaannya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: