Vibrasi

Oktober 27, 2010 oleh Dodi Kurniawan

21 tahun lalu, dalam sebuah kegiatan merayakan hari kemerdekaan republik tercinta ini, penulis mengikuti cross-country dengan medan yang benar-benar menantang. Betapa tidak, dalam kesempatan tersebut peserta ditantang untuk menjelajahi rute dengan turunan dan tanjakan yang lumayan ekstrem. Melewati perkampungan yang sulit untuk dibayangkan bagaimana warganya bisa sampai kerasan di tempat seperti itu.

Terlepas dari rasa letih yang menghisap stamina di satu sisi, serta indahnya panorama yang menggoda imajinasi di sisi lainnya, penulis menemukan sesuatu yang betul-betul mengusik pikiran. Waktu itu hanya sensasi terusik dan tak terpikirkan bahwa 21 tahun kemudian, peristiwa itu masih akan terekam dengan baik di benak –terlebih penulis termasuk orang yang tidak terlalu menyukai buku harian.

Apa yang penulis temukan waktu itu adalah beberapa botol coca cola terpajang di sebuah warung kecil di sebuah puncak dari sebuah bukit berpenghuni beberapa rumah sederhana. Apakah pendiri perusahaan coca cola pernah membayangkan bahwa mereka bisa menjual dagangannya ke tempat yang bahkan dalam mimpi pun mereka tidak pernah terbayang untuk mengunjunginya?

Marketing barangkali mantra bertuah yang bertanggung jawab di balik fenomena sosial ini. Penulis tidak keberatan, serta tidak memiliki minat untuk menyangkalnya. Hanya saja tergelitik untuk mengajukan sebuah pertanyaan: mekanisme apa yang sebenarnya bekerja di balik peristiwa yang nampak sederhana ini?

Kurang dari dua tahun lalu, penulis menemukan penjelasan yang sangat brilian dari Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad–semoga Allah meridhainya–bahwa manusia itu ibarat antena yang dapat memancarkan sekaligus menerima gelombang–ke dan dari sesama manusia. Kemampuan menerima dan memancarkan gelombang itu tentu tergantung kepada masing-masing diri manusia. Naskah ini bertanggalkan 16 Pebruari 1919–jauh sebelum the Law of Attraction-nya Michael Losier. Kini rasanya penjelasan brilian ini dapat kita temukan di semua pelatihan motivasi. Penulis sendiri lebih suka menamai ‘hukum vibrasi’ untuk fenomena yang sedang dibicarakan ini.

Seseorang yang memikirkan, menginginkan atau merasakan sesuatu memancarkannya berupa gelombang. Gelombang itu merayap dan meriak di semesta. Semakin kuat sebuah pemikiran atau keinginan semakin kuat gelombang. Semakin kuat gelombang semakin jauh jangkauannya melintasi ruang dan waktu. Seibarat riak air di kolam atau jaring laba-laba, gerakan di satu titik akan membuat titik lainnya turut bergetar.

Kembali ke peristiwa 21 tahun silam, jejeran botol coca cola di pedesaan terpencil nun jauh disana merupakan bukti benarnya teori ini. Botol-botol tersebut sampai ke sini karena vibrasi. Kuatnya visi si pemilik coca cola company tanpa kita sadari telah menggetarkan pembuluh hasrat kita untuk menginginkan minuman dari Amerika ini. Demikian pula halnya dengan Honda, Sonny, Mercedes, Samsung, McDonalds, Apple atau bahkan Keong Racun.

Dunia kini menjadi datar, satu gagasan di satu tempat bisa berbagi gagasan dengan suatu tempat di belahan dunia lainnya. Trend shareware atau open source menyiratkan kesadaran manusia bahwa mereka memang benar-benar berbagi ruang di semesta ini.

Nah sekarang barangkali kita bisa memahami mengapa niat baik itu begitu penting, atau mengapa kita mesti mengendalikan keinginan-keinginan kita? Ingat semua itu akan bervibrasi, so be careful with your wish!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: