Miniatur Semesta

Kita, manusia, adalah al-‘ālam al-shagir (miniatur semesta). Semua unsur alam terdapat dalam diri manusia. Thales (624–546 SM)—sinembahnya filsafat Yunani—berujar, sebagaimana dikutip Cicero bahwa: “…Water is the principle of all things; and that God is that Mind which shaped and created all things from water.” Pernyataan sinembah ini sejalan dengan pernyataan Al-Qur’an QS Al-Anbiya: 31.

Dalam diri manusia terdapat kemampuan untuk menundukkan alam yang sangat luar biasa. Taskhīr (penundukkan) dilakukan manusia melalui kekuatan akalnya. Semestapun secara beragam menunjukkan ketundukkannya kepada manusia sesuai dengan tugas utama mereka mengkhidmati makhluk tersempurna yang merupakan masterpiece-nya Al-Khaliq. Unsur udara—angin misalnya saja—secara fungsional ditundukkan untuk menggerakan perahu-perahu atau kincir. Unsur air, selain menjadi sumber pembangkit listrik, manusia juga mengaturnya dalam sistem irigasi. Penundukkan oleh unsur alam oleh manusia juga dalam tataran hakikat keberadaan mereka sendiri. Dalam hal ini memang hanya manusia yang diberi kemampuan untuk mempelajari alam sekitar termasuk dirinya sendiri.

Kemampuan manusia berkenaan dengan akalnya teramat luar biasa. Gambaran terindah dalam gaya bahasa Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalīah fi al-ardh. Manusia bahkan bisa ‘menciptakan’, ‘merubah’ bahkan ‘menghidupkan’ makhluk lainnya. Konservasi alam, penangkaran binatang langka atau terancam punah, rekayasa genetika sampai kreasi dunia virtual melalui teknologi digital—ala film Hollywood atau sains dokumenternya National Geographic.

Penundukkan unsur alam yang menarik bisa kita lihat—bagi beberapa orang barangkali kata ‘tonton’ lebih tepat—dalam film Avatar: The Legend of Ang. Kita bisa menyaksikan—sekali lagi barangkali lebih tepatnya menonton—manusia yang memiliki kemampuan mengendalikan air, api, angin dan tanah. Meskipun Nampak teramat komikal atau kartunistik, tetapi kebolehjadian fenomena ini—menurut hemat penulis—samasekali tidak bisa diabaikan.

Hal menarik lainnya. Bila secara kosmologis, semesta—setidaknya galaksi dimana kita berada—disepakati pernah mengalami bing bang dan akan mengalami big crunch. Demikian juga halnya manusia, kelahiran seorang manusia kongruen dengan big bang dan kematiannya sebangun dengan big crunch. Kelahiran manusia adalah proses keluarnya manusia dari sebuah black hole yang kemudian berubah menjadi white hole.

Berita buruknya. Sejak manusia adalah miniatur semesta maka dalam diri manusia pun terdapat potensi alami merusak seperti air berubah menjadi banjir, udara menjadi taufan prahara, tanah menjadi gempa dan sebagainya. Belum lagi sifat liar dan buas binatang yang dengan segala kenaifannya bisa menimbulkan kebinasaan dalam sekala besar.

Namun, berita bagusnya. Sisi baik selalu lebih banyak dari sisi kebalikannya. Untuk itu, marilah kita mensyukuri kedudukan kita sebagai manusia dengan berbagi kebaikan dan manfaat sebanyak yang kita bisa sebarkan. Mari!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: