Kongruensi

September 2, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Sambil sahur, ketika mata terantuk pada anak-anak saya yang tidur dengan begitu damainya – khusus untuk si kecil Ozan, tidurnya asli niru tokoh idolanya: Bernard Bear, jadi terpikir untuk membandingkan anak kecil sama orangtua (harap ditekankan pada tuanya).

Pertama: keduanya sama-sama dekat dengan rahim. Anak kecil dengan rahim ibunya adapun yang tua kian dekat dengan rahim bumi-nya, yakni liang lahad.

Kedua: ilmunya melemah. Ketika masih kanak-kanak ilmu manusia begitu terbatas – padahal di alam arwah, beberapa sumber menyebutnya sebagai alam nisyan ula, ruh manusia sudah memiliki kesadaran yang teramat tinggi. Buktinya ketika Allah bertanya kepada manusia di alam prakelahiran ke dunia ini: alastu birabbikum – bukankah Aku adalah Rabb kalian? Ruh manusia menjawab: balaa syahidnaa – benar, sungguh kami menyaksikan demikian.

Hal yang sama dengan orang yang tua, dimasa tuanya – terlebih yang mengalami fase pikun – ilmu manusia jauh banyak berkurang. Ingat berkurang, stabilitas mental-emosi berkurang dan sederet makin-berkurang-lagi lainnya. Padahal sebelumnya ia jauh lebih perkasa dan digdaya dari keadaannya ini.

Ketiga: sama-sama dalam tilikan Tuhan secara ekstra. Ketika kanak-kanak, tugas pengayoman dan pengasuhan diberikan kepada orangtua sebagai penzahiran sifat Rububiyyat-Nya. Dan ketika dia uzur dan renta maka tugas untuk mengayomi dan mengasuhnya diberikan kepada anak-anaknya sebagai penzahiran sifat Rahmaniyyat dan Rahimiyyat-Nya.

Bukankah ada doa yang begitu tegas menggambarkan siklus tak terelakkan ini: Rabbighfir lii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiira – Wahai Tuhanku, ampunillah hambamu ini begitu pula kedua orangtua hamba dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi hamba sewaktu kecil.

Nah, sebenarnya ada yang keempat. Tapi yang ini harap dilupakan bila itu diperlukan. Yakni, kedua-duanya sama-sama dekat dengan tanah. Perhatikan begitu asyiknya akan-anak kalau sudah main tanah. Lalu bukankah ketika kita berlalu dari muka bumi ini – dan umumnya ini terjadi di masa tua kita – kita akan terbaring dan dipendam di dalam tanah?

Sahur telah berlalu. Adzan Shubuh segera berkumandang. Sebelum mengambil wudhu ada sebuah do’a untuk kedua buah hati: Rabbanaa hablanaa min azwajina wadzurriyyatinaa qurrata a’yunin waj’alna lilmuttaqiina imaama – Wahai Tuhan kami berikanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: