Bahasa

Oktober 30, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Salahsatu kemampuan manusia yang sangat patut untuk disyukuri adalah berbahasa. Kemampuan berbahasa inilah yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan. Apa yang manusia rasakan dan pikirkan berubah menjadi ilmu pengetahuan melalui kemampuannnya dalam berbahasa. Bila Wittgenstein suatu kali berujar: Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt—batas bahasaku adalah batas duniaku–malah menurut hemat penulis batas kemampuan manusia dalam berpikir adalah batas kemampuannya dalam mengekspresikan pemikirannya dengan bahasa.

Bila tidak ada kemampuan berbahasa, bagaimana manusia bisa menciptakan matematika? Bagaimana proses berpikir baik secara induktif atau induktif bisa menghasilkan sains?

Seorang gembala nomad sambil menunggu ternaknya yang tengah istirahat di dinginnya malam terlentang menatap bintang gemintang di langit. Meski karena tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja sehingga hanya memberinya sedikit waktu kepada matanya untuk menjelajahi luasnya jagat—sebelum kantuk menutupkan kedua matanya dalam lelapnya tidur—barangkali inilah bentuk awal observasi manusia atas dunia langitan. Nah, bila saja tidak ada yang namanya bahasa, maka semua itu hanya akan tersimpan di alam pikiran dan akan sulit untuk membayangkannya menjadi sebuah cabang ilmu yang bernama astronomi.

Luapan air dari bak mandi ketika tubuh Archimides yang gundah setelah tak kunjung dapat menyelesaikan persoalan yang diberikan kepadanya akan sangat sulit untuk dibayangkan menjadi awal lahirnya hukum beras jenis dengan tanpa bantuan bahasa.

Malah, ada beberapa kata yang bahkan sejarah mengabadikannya layaknya sebuah prasasti. Gnothi seaution-nya Socrates; eppur si muove-nya Galileo, et tu, Brute-nya Julius Ceasar atau cogito ergo sum-nya Descartes.

Begitu juga halnya dengan bahasa tulisan. Konon, Il Principe-nya Machiavelli dianggap bertanggung jawab atas lahirnya sosok-sosok tiran durjana di daratan Eropa. Tentu saja berbilang buku lainya mengilhamkan kebaikan dan maslahat bagi kehidupan manusia.

Bahasa bukanlah sekedar kata atau kalimat. Bahasa adalah materialisasi dari pemikiran—sebuah pembumian dari alam gagasan. Bahkan ketika ekspresivitas bahasa konvensional tidak lagi dirasakan cukup, maka manusia menciptakan bahasa artifisial yang ia sendiri tidak dapat menggunakannya dalam kehidupan sosialnya sebagai makhluk komunikatif. Matematika adalah bahasa terindah yang dihasilkan manusia. Meski pada masa awalnya sempat sangat elitis, matematika bisa dianggap sebagai bahasa universal. Kerumitan sebuah konsep yang terlalu jelimet bila diungkapkan dengan kata-kata, dapat manusia ungkapkan dalam persamaan-persamaan matematis. Matematika dengan algoritmanya melahirkan bahasa mesin yang dengannya ‘mahkluk-makhluk’ ciptaan manusia bisa saling berkomunikasi. Contoh sederhana dari kasus ini adalah bentuk komunikasi antara sebuah komputer dengan printer atau sebuah remote control dengan televisi kita di ruang keluarga.

Bahasa, sekali lagi, bukan hanya sekedar kata-kata atau ujaran. Bahasa adalah transformasi dari metafisika ke fisika dan sebaliknya. Tuhan sendiri yang mengajarkan semua ini kepada manusia. Dia memang kuasa untuk mencipta bahkan dengan segala kerahasiaan dan kesenyapan, namun bukankah Dia juga berfirman lewat wahyu-Nya? Barangkali bahwa manusia adalah ciptaan-Nya yang berbahasalah mengapa Tuhan bertitah. Bila demikian adanya: bukankah sepatutnya kita bersyukur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: