Abundance

November 21, 2010 oleh Dodi Kurniawan |

“Lebih baik mati saja sekalian daripada hidup tanpa musik.” Demikian tulis seorang siswa dalam status facebook-nya. Tak lama sesudah itu beberapa komentar muncul yang kurang lebih menggambarkan nada serupa. Penulis pun turut mengomentarinya meski tentu saja dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Komentar penulis kurang lebih begini: “Setiap orang juga mengatakan demikian berkenaan dengan masing-masing hal yang disukainya. Namun yang jelas, justru kehidupan sendirilah yang memberi kesempatan kepada masing-masing kita untuk bahkan mengemukakan itu semua. Jadi, sungguh teramat layak hidup ini untuk dipertahankan!”

Bukankah kehidupan yang membuat telinga kita menikmati alunan magis sebuah musik? Pertanyaan retoris ini pun sempat diimbuhkan melengkapi komentar penulis.

Kehidupan sungguh penuh dengan kelimpahan. Setiap dari kita asyik dengan satu atau beberapa kelimpahan ini lalu sejurus kemudian tenggelam dalam kegilaan atasnya. Betapa tidak berlimpahnya kehidupan ini, manusia-manusia jenius terlahir ke dunia ini namun bukankah senantiasa tersedia gagasan yang menanti untuk diungkapkan? Seniman-seniman bertalenta luar biasa hidup di dunia ini namun bukankah keindahan rupa dan kemerduan nada tak kunjung habis untuk dinikmati?

Sains dan seni seakan menjadi semesta yang tersendiri meski tentu seringkali beririsan. Kemudian tidak berhenti sampai disana saja. Baik sains maupun seni masing-masing terbagi menjadi semesta-semesta kecil yang lagi-lagi tersendiri meski dalam satu atau beberapa keadaan bersinggungan. Masing-masing semesta bersifat khas seunik manusia. Setiap semesta layaknya ‘dunia lain’ bagi semesta lainnya. Manusia adalah alien bagi manusia lainnya.

Seperti halnya anekdot gajah dan orang buta, semesta kita tercipta dari persepsi kita sendiri. Dan ini adalah hakikat dari kelimpahan yang dibicarakan di awal tulisan. Dalam kehidupan yang kita jalani kejeniusan Mozart, Bach dan Beethoven berbagi ruang dengan leluasa tanpa mengurangi sedikitpun keberlimpahan semesta nada. Semesta kreativitas tak kunjung surut meski telah lahir sosok Leonardo dan Edison. Semesta rupa tidak menciut meski Picaso dan Van Gogh telah mengekploitasinya. Demikian juga halnya dengan semesta sains yang tak juga berkurang misterinya meski Galileo, Newton dan Einstein telah berusaha mengungkapnya.

Satu lagi semesta besar yang penulis sebut secara terpisah, yakni semesta agama. Seratus duapuluh empat ribu nabi telah diturunkan sebagai guru manusia dari waktu ke waktu namun tetap kisah pencarian hakikat tak meredup sedikitpun keagungannya.

Sungguh kehidupan ini penuh dengan kelimpahan sehingga teramat layak untuk dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: