Veni Vidi Vici

November 8, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Veni vidi vici–aku datang, aku lihat dan aku menang. Demikian cetusan inspiratif dari sosok Julius Ceasar. Kata-kata ini barangkali berbau imperialis sehingga beberapa orang sudah kehilangan selera untuk membicarakannya. Penulis sendiri ketika mencoba membuka pembicaraan dengan seorang teman, ketika memulai dari tiga kata ini, teman penulis langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Dan pembicaraanpun berjalan tidak sesuai dengan harapan.

Hal lainnya berkenaan dengan kata-kata ini adalah seringnya secara kaprah ditulis atau diucapkan sebagai vini vidi vici alih-alih veni vidi vici. Salahsatu alasannya barangkali karena lebih mudah menikmati keselarasan bunyi i pada vini vidi vici daripada veni vidi vici.

Kata atau kalimat seringkali dituding berideologi. Kata kāfir, misalnya, seolah kata itu sendiri sudah merupakan keburukan untuk bahkan sekedar mengucapkannya. Padahal, ahl al-lughah (pengguna bahasanya yang asli) menggunakan kata kāfir untuk petani. Sebaliknya dengan rasūl yang awalnya secara umum bermakna pesuruh atau utusan—yang untuk itu tukang pospun disebut rasūl—berubah menjadi elitis yakni sosok manusia pilihan Tuhan. Penyempitan atau perluasan makna kata bertanggungjawab dalam fenomena kebahasaan ini. Tapi anehnya justru faktor penyebab ini seringkali diabaikan. Lalu beberapa orang malah menganut ideologi kebahasaan ini sebagai madzhab dalam komunikasinya.

Kembali kepada veni vidi vici. Memang seharusnya kita demikian. Kita dihadirkan dalam kehidupan ini guna melihat dan mempelajari dari, di dan kemana kita dari sini untuk menuju kemenangan yang sejati. Kemenangan sejati adalah penaklukan yang sempurna atas diri kita sendiri. Kehidupan sendiri diibaratkan sebagai peperangan. Pujangga-pujangga besar dunia menamsilkan pertempuran kita melawan diri kita sendiri dalam kisah-kisah agung yang hingga kini masih bisa dibaca. Illiad dan Mahabharata mewakili karya besar manusia dalam menyadari posisinya di dalam kehidupan.

Dalam sabdanya yang terkenal, Hadhrat Muhammad Musthafa saw sepulang dari peperangan Badar menegaskan: Kita kembali dari peperangan kecil menuju peperangan yang jauh lebih besar. Dan perang besar yang beliau saw. maksudkan tiada lain peperangan kita dengan diri kita.

Bila veni vidi vici dilihat dari perspektif gnothi seaution-nya Sokrates maka kata vidi disini akan bermakna ketahuilah diri kita sebab dia yang akan membawa kita kembali kepada pemahaman akan keberadaan (veni) kita sekaligus kemenangan (vici) kita.

Barangkali Julius Ceasar tidak memaksudkan perkataanya kearah ini—makanya dia lebih dikenal sebagai imperialis alih-alih sebagai filosuf. Namun, bukankah bijak untuk belajar dari kekeliruan orang lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: