Rahasia dibalik Membaca

November 3, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Kata pertama yang difirmankan Tuhan dalam wahyu-Nya yang kemudian dikenal sebagai Al-Qur’an adalah iqra’. Sebuah kata perintah yang berarti ‘bacalah!’. Kata itu selanjutnya disempurnakan dalam bentuk lengkapnya: iqra’ bi ism rabbika al-ladzī khalaq–bacalah dengan nama Tuhan engkau yang telah menciptakan [engkau].

Sungguh luar biasa isyarat yang terkandung dalam wahyu pertama ini! Manusia diperintah untuk mengembangkan dirinya melalui proses membaca baik yang tersurat maupun yang tersirat. Kata iqra’ berasal dari kata kerja (fi’il) yang terdiri dari huruf-huruf qāf-rā’-hamzah. Ketiga huruf dasar ini menggambarkan hakikat dibalik makna kata qara’a (membaca). Huruf qāf mengisyaratkan kepada kemampuan atau kekuatan (qadr atau quwwah); rā’ berarti melihat atau berargumen(raā); adapun hamzah mengisyaratkan kepada tanda atau mukjizat (āyah). Sehingga kata raā mengandung makna kemampuan untuk melihat tanda. Kemampuan inilah yang secara khusus diajarkan Tuhan kepada kita sebagai manusia.

Kata iqra’ dalam bentuk perintah menyiratkan karakater manusia yang secara naluriah akan dibimbing oleh keingin-tahuannya yang kuat. Sejarah evolusi manusia menunjukkan betapa kuriusitas instingtif manusia berhasil membawa manusia ke langit-langit peradaban yang sungguh luar biasa. Bacaan manusia terhadap rasa takut menjadikannya menciptakan senjata—yang bahkan mampu menghancurkan dunia yang ditinggalinya. Bacaan manusia terhadap keindahan mendorongnya untuk menciptakan seni yang adiluhung sehingga seringkali menyeretnya kedalam keburukan. Bacaan manusia terhadap gejala alam menjadikannya menguasai ilmu yang kemudian menjadi sembahannya. Namun benang merah dari kesemua itu adalah kemampuan manusia dalam membaca.

Membaca bukan hanya sekedar proses decoding huruf, sandi atau simbol melainkan kemampuan memahami kedalam sesuatu, kemampuan menelisik jauh dibalik permukaan bahkan memahami pemahaman itu sendiri. Barangkali para filosuf perlu menambah istilah baru untuk manusia, yakni makhluk yang membaca—dan rasanya akan banyak yang keberatan meski menggunakan bahasa Arab bila penulis mengajukan manusia sebagai al-hayawān al-qārireading  animal.

Kemampuan membaca manusia identik dengan kemampuannya dalam melihat dan berpikir. Sehingga tidaklah terlalu sulit untuk memahami maksud dari kata-kata to be is to perceive. Berpikir adalah membaca bahasa yang tersirat sebagaimana membaca adalah mengartikulasikan pikiran yang terkandung dalam bahasa yang tersurat.

Hal lain yang menarik dari kata pertama dalam wahyu pertama ini adalah bahwa direkatkannya kata iqra’ dengan bi ism rabbika mengajarkan kepada kita suatu prinsip penting dalam membaca: untuk dapat membaca dengan baik maka kita perlu bacaan-bacaan pendukung lainnya. Suatu bahan bacaan tidak dengan sendirinya dapat memunculkan suatu pengaruh atau memberi makna. Sungguh diperlukan pengetahuan penunjang, latar belakang, pengetahuan yang bersifat pengantar dan yang paling utama adalah inspirasi—yang dalam tingkat tertingginya berupa wahyu Ilahi.

Melalui perintah untuk membaca, yakni iqra’, kini jelaslah sudah bahwa Tuhan menginginkan kita menemui-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: