Disini Dimana Aku Melihat Tuhan

September 8, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Dalam Pesantren Ramadhan beberapa waktu yang lalu. Dalam kesempatan tanya jawab, seorang peserta mengajukan pertanyaan: “..Bagi orang yang berpuasa kan ada dua kegembiraan yang dijanjikan; pertama saat berbuka dan yang keduanya saat ia bertemu dengan Tuhannya. Nah, apakah setiap yang berpuasa itu bertemu dengan Tuhannya?”

Pak Muballigh, sebagai narasumber,mempersilahkan saya untuk ikut menghangatkan suasana. Dalam benak saya berkata: Nih anak pinter juga. Meskipun pertanyaannya populer – dalam  artian permasalahan ini seringkali dibahas dalam kesempatan Ramadhan – tapi tidak semua orang mengajukan pertanyaan kearah ini. Biasanya kita cukup senang saja mendengarkan penjelasan ini. Atau, malah sebagian dari kita lebih fokus kepada kebahagiaan yang pertama, yakni memikirkan dan menghitung waktu yang serasa berjalan lambat menuju beduk Maghrib. Keadaan diperparah dengan adanya kecenderungan para penasihat [baca: kiayi, ajengan dan narasumber lainnya] untuk lebih menggarisbawahi bahwa kebahagiaan yang kedua itu untuk nanti di akhirat kelak.

Sejak saya sudah menaruh respek sama si penanya, maka rasanya sangat tidak patut untuk tidak sungguh-sungguh dengannya. Kepada peserta Pesantren Ramadhan saya sampaikan bahwa kita tidak hanya ‘melihat Tuhan’ malah kita ‘mendapatkan’ Tuhan dalam diri kita.

Betapa tidak: Kita tidak makan dan minum – meskipun itu dalam waktu yang ditentukan – yang padahal adalah merupakan fitrah manusia untuk makan dan minum. Bukankah kita menzahirkan sifat Tuhan yang tidak makan dan minum?;

Kita mengurangi tidur – malah beberapa orang sampai pada batas ekstrim manusia bisa menangguhkan waktu tidurnya – yang padahal adalah merupakan fitrah manusia untuk tidur. Bukankah kita menzahirkan sifat Tuhan yang tidak disentuh tidur – bahkan kantuk sekalipun?;

Kita didik oleh Ramadhan untuk lebih menahan diri bahkan untuk berbicara sekalipun yang padahal adalah merupakan fitrah manusia untuk tergesa-gesa. Bukankah kita menzahirkan sifat Tuhan yang Maha sabar?

Malah untuk sebagian kita yang mendapat kesempatan menjalankan i’tikaf, kita bahkan tidak bergaul dengan pasangan kita pada malam hari sekalipun yang adalah merupakan fitrah manusia untuk bergaul dan berketurunan. Maka bukankah sekali lagi kita tengah menzahirkan sifat Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan?

Nampaknya tidaklah membutuhkan kejeniusan bagi kita untuk membuat sebuah kesimpulan bahwa kita – telah, tengah atau setidaknya akan – menemukan Tuhan dalam diri kita melalui shaum di bulan agung Ramadhan ini.

Nah, tidak terlalu salah kan bila saya menaruh respek terhadap si penanya sekaligus pertanyaannya ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: