Antara Agama dan Utang

September 8, 2010 oleh Dodi Kurniawan

Ada kaidah yang tersirat dalam bahasa Arab bahwa bila beberapa kata memiliki kemiripan bentuk, bunyi atau tersusun dari huruf-huruf yang sama maka diantara satu sama lainnya terdapat keterkaitan makna. Misal, kata ‘amal (perbuatan) dengan amal (angan-angan) memiliki keterkaitan makna yakni sama-sama berhubungan dengan perbuatan. Hanya saja sesuai kaidah lainnya bahwa huruf yang lebih berat bunyinya atau lebih sulit pengucapannya akan menentukan bobot sebuah makna, oleh sebab itu bila kata ‘amal memiliki tingkat kebolehjadian yang tinggi maka sebaliknya dengan kata amal.

Atau, kata kafara dengan ghafara keduanya memiliki makna menutupi. Dalam makna ini, seorang petani juga disebut kafir sejak pekerjaan utamanya menutupi biji-biji dengan tanah alias menanam bibit tanaman.

Demikian pula dengan kata din (agama) dan dain (utang). Keduanya menuntut penunaian, ikatan serta sekaligus melahirkan konsekuensi atas bentuk pengabaiannya. Bila agama diartikan secara sederhana sebagai kepercayaan, bukankah utang piutang juga berlandaskan atas asas kepercayaan? Dan sebaliknya bila utang juga diartikan secara sederhana sebagai tagihan, bukankah agama juga sebuah tagihan dengan nama lain Hari Akhir?

Hal menarik selanjutnya adalah bahwa ternyata jauh sebelum kita lahir, kita telah banyak berutang banyak kebaikan dari orang lain. Mulai dari orang lain yang teramat dekat dengan kita seperti orangtua, keluarga dan tetangga sampai yang terjauh leluhur kita serta leluhur ruhani kita. Sungguh tidak mudah menerima kenyataan bahwa bangsa nomad lagi barbarik seperti bangsa Arab pra Islam, bahwa mereka berutang kebaikan kepada Nabi Ibrahim a.s. yang bahkan bukan bangsa mereka sendiri!

Bacaan shalawat Nabi yang senantiasa kita panjatkan setiap hari, hakikatnya adalah penunaian atas utang kebaikan kita terhadap wujud agung Hadhrat Muhammad saw. yang telah membawa kita keluar dari kegelapan menuju cahaya. Itulah sebabnya barangkali mengapa menurut riwayat bahwa kelak di akhirat, Nabi Muhammad saw. yang begitu pemurah bahkan tidak berkenan memandang mereka yang tidak suka bershalawat ketika nama beliau disebutkan di hadapan mereka.

Apalagi utang kita kepada Allah Ta’ala. Namun, sejak kita tidak dapat melunasi utang-utang kita kepada Allah – dan Allah Ta’ala sendiri juga tidak menghendakinya, maka Dia melimpahkan karunia-Nya melebihi tagihan-Nya, rahmat-Nya melingkupi siksa-Nya, bahkan neraka-Nya pun dibiarkan tidak seabadi sorga-Nya. Tidak hanya itu, sarana untuk mendapatkan ampunan dan kebaikan-Nya jauh melampaui ancaman adzab-Nya. Contoh matematika Tuhan yang paling sederhana berkenaan dengan utang-piutang ini adalah bahwa niat akan sebuah kebaikan itu dinilai satu, dan akan menjadi dua bila itu ditunaikan; namun tidak demikian halnya dengan keburukan, hanya akan dinilai bila hal tersebut telah dikerjakan dan itupun hanya satu nilai buruknya. Malah, bila kebaikan bisa dibalas dua kali lipat, sepuluh kali lipat, seratus kali lipat, tujuh ratus kali lipat sampai tak terhingga lipatannya, maka tidak demikian dengan keburukan: dua kali lipat adalah hukuman terburuknya.

Bila saja agama itu adalah utang, maka alangkah beruntungnya kita dalam perniagaan ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: