My Son’s Hairy Pet (2)

Hari yang dinanti itu pun tiba. Tanggal 23 Oktober lalu–3 hari sebelum anak sulung saya, Sabeela genap berusia 7 tahun, Linci (nama kelinci saya, induknya Chiko) melahirkan 7 ekor anak yang mungil-mungil.

Sungguh bahagia menyambut kelahiran adik-adik Chiko ini. Namun, saya harus ekstra hati-hati mengingat kelahiran bayi-bayi kelinci kali ini bertepatan dengan musim penghujan yang lumayan ekstrem. Bila kurang hati-hati, adik-adik Chiko bisa saja tereliminasi oleh ketatnya seleksi alam.

Kini, Yaqzhan bertambah piaraannya, dan konsekuensi dari bertambahnya tugas tersebut terlimpah sepenuhnya kepada saya sebagai abahnya.

‘Ala kulli hal, marhaban ya abna arnab!

 

By Dodi Kurniawan

Howard Rheingold

Tanpa sengaja, pagi ini saya ingin sekali mengetikkan kata programer di kolom pencarian Google. Barangkali obrolan pagi ini bersama Ibu Kepala Sekolah tentang Abi–siswa kelas X-1–membetikkan inspirasi seputar komputer.

Google memberikan banyak pilihan informasi seputar programer, dan yang menarik adalah saya diajak berkenalan dengan Howard Rheingold dengan bukunya Tools for Thought. Ternyata Pak Rheingold ini sosok yang menarik selain tentu saja termasuk diantara manusia-manusia cerdas.

Nah kalau mau tahu kunjungi saja situs resminya http://www.rheingold.com!

Sebagai bukti ketertarikan saya sama Pak  Rheingold ini, saya muat tulisannya tentang bentuk semesta di halaman Beautiful Writings.

Selamat berkenalan deh!

By Dodi Kurniawan

My Son’s Hairy Pet

Sudah seminggu lebih, di rumah ada penghuni baru: seekor kelinci hasil perkawinan jenis keturunan New Zealand dan Lop. Anak saya menamainya Chiko.

Meskipun jadi kelenci rumahan tetapi saya tetap memberi pakan rumput dan sayuran selain sedikit pakan buatan toko. Saya menekankan kepada anak saya untuk tetap menjaganya sealami mungkin.

Chiko adalah kelinci angkatan generasi kedua yang lahir dibawah tilikan dan amatan anak saya. Dan tanggal 22 Oktober ini, insya Allah, generasi ketiganya akan lahir. Induknya Chiko sekarang lagi hamil 2 mingguan.

Menyongsong kelahiran generasi ketiga nanti, persiapan kecil telah dilakukan–tanpa kecuali memilihkan nama yang tepat bagi setidaknya 3 bayi mungil adik Chiko.

By Dodi Kurniawan

Second Thought

Kemarin, dalam sebuah pertemuan di Mekarsari, seorang sahabat menghidupkan kembali sebuah kenangan.

Beberapa waktu lalu–kurang lebih setahun  lalu–saya sempat memiliki komputer saku produk Dopod. Seiring perkembangan, Dopod merapat dengan HTC, dari dari situ HTC menjadi bagian dari informasi yang sering saya temukan atau cari.

Kembali lagi kepada kemarin. Sahabat saya, namanya Paris–saya tidak begitu tahu apakah orangtuanya ngebet sekali sama Perancis atau juru tulis di desa tempat kelahirannya salah ketik dari Faris, Faridh, Fariz dan sejenisnya :D –kembali membunyikan bunyi HTC dalam rekaman otak saya. Maklum, akhir-akhir ini kan Nokia E7 banyak sekali menarik perhatian saya :D

Apa yang sahabat saya lakukan, miliki atau bicarakan yang berhubungan dengan HTC tersebut?

Sebetulnya tidak sengaja. Betul-betul by accident. Sewaktu rihat, Paris dengan santai mengeluarkan sesuatu dari tasnya, dan saya hampir meyakininya sebagai block note yang bersampul tebal. Namun ternyata sebuah tablet android bernama HTC Flyer. ‘Flyer’ tidak terlalu menarik perhatian saya. HTC-lah yang menjadi pusat perhatian.

Second thought, my friend, just a second thought. Kok aneh ya, HTC flyer ini bisa membuat saya memiliki sebuah perspektif lain tentang Nokia E7. Itulah hidup: some sees what others don’t.

By Dodi Kurniawan

Sekali lagi: Tentang Nokia

Seperti umumnya yang lain, adakalanya rasa suka atau ‘kesengsem’ timbul seringkali tanpa harus ada alasan yang terlalu kuat–apalagi ilmiah. Itulah yang terjadi dengan saya.

Entah mengapa, saya begitu tertarik dengan Nokia E7. Beberapa hari lalu, sambil mengantar istri yang bermaksud membeli tempat pensil untuk anak saya yang paling besar, Sabeela,  saya melewati sebuah toko yang menjual produk ponsel Nokia.  Dan ternyata Nokia E7 itu ada disana. Tanpa pikir panjang, saya minta istri saya untuk meninggalkan saya sejenak untuk sekedar melihat-lihat.

Ukuran komunikator ini memang terasa pas–bisa jadi ini agak kurang objektif, maklum rasa suka sudah mempengaruhi aspek penilaian :D   Layar sentuh dikombinasikan dengan keyboard qwerty lengkap rasanya lebih dari sukses membuat saya kesengsem. Begitu lama utak-atik sampai petugas keamanan tempat tersebut tertarik–atau barangkali lebih tepatnya curiga–mendekati saya. Senyum antisipatifnya membuat saya cepat-cepat berusaha mencairkan suasana dengan kata-kata: “Asik bener nih komunikator! Sayang sekali…”

Dengan tangkas, Pak Satpam menukas, “Emang ada yang kurang, Pak?”

“Ya” jawab saya cepat “Kurang murah!”

Eh ternyata Pak Satpam punya sense of humor yang lumayan. Dia terseyum  lebar. Namun, suka bercanda bukan berarti anti usaha. Sejurus kemudian ia mulai merayu, “Sudah turun 100 ribuan deh Pak dari harga beberapa hari sebelumnya!”

Untungnya saya termasuk kategori orang yang cukup waras dalam menilai diri. Jadi meskipun kesengsem, rasanya saya masih bisa menunggu waktu yang tepat.

By Dodi Kurniawan

Selamat Jalan Nokia 9300!

Hmm Nokia 9300 saya bandel itu akhirnya tumbang juga! Fungsi deteksi sinyalnya mengalami kepikunan parah–bisa jadi ini gara-gara seringnya terjun bebas oleh anak bungsu saya. Padahal siang ini saya masih sempet ‘nyombong’ kepada siswa-siswi di kelas kalau hp ini bandel habis :D

Namun bagaimanapun sisa-sisa kejayaannya masih tetap ada–setidaknya masih bisa dipakai kedua anak saya–Abil dan Ozan–untuk rekaman lagu-lagu wajib mereka :D

Dan sebagai orang yang pantang patah hati, saya pun sudah mulai membuka ruang hati untuk kehadiran hp komunikator yang jauh lebih canggih–meskipun bagian pilunya adalah tentu saja harganya juga jauh lebih mahal–yaitu Nokia E7.

Untuk yang mau berpartisipasi mendoakan saya, biar doanya lebih terorientasi dan fokus, saya lampirkan gambarnya deh :D

Keren kan?

Nah supaya saya termasuk orang yang tahu balas budi, izinkan saya untuk mengucapkan kata-kata perpisahan kepada ia yang telah purna bakti hari ini tanggal 22 September 2011: Selamat jalan, Nokia 9300!

By Dodi Kurniawan

Kutipan Tatap Muka di Kelas XII IPA

Mereka yang tidak berlaku baik kepada sesama adalah mereka yang tidak mampu melihat potensi baik sesamanya bagi kebaikan diri mereka sendiri

Setidaknya itu yang saya sampaikan kepada siswa-siswi kelas XII IPA dalam pertemuan mata pelajaran  PAI siang ini.

Untuk semua warga Rocket G–khususnya Andri yang menerima tantang untuk memecahkan kasus hipotetis yang saya berikan–semoga kelas kita siang ini bermakna banyak untuk kalian!

Salam Perjuangan!

By Dodi Kurniawan

Dua jawaban sederhana untuk siswaku, Abi

Beberapa hari yang lalu, Abi–siswa saya kelas X putra–mengajukan dua pertanyaan sederhana yang menarik.

Pertama: apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan motivasi dan karakter yang baik?
Kedua: apa yang harus dilakukan untuk bisa membantu menumbuhkan motivasi dan karakter yang baik pada diri teman? [Abi adalah KM di kelasnya, gitu lho :) ]

Saya bukan Mario Teguh atau Mamah Dedeh.Jadi harus mikir dulu untuk menjawab dua pertanyaan sederhana tapi tidak mudah ini. Untungnya saya penganut pepatah ‘simplex veri sigillum’ jadi tidak harus ‘lebay’ untuk menjawabnya :D

Jawaban sederhana saya untuk Abi sebagai berikut: Untuk bisa menumbuhkan motivasi dan karakter–selain latihan–kita sungguh memerlukan tujuan, cita-cita, impian atau setidaknya harapan. Tanpa itu semuanya tidak akan ada; adapun untuk bisa membantu orang lain, maka kita perlu memilikinya terlebih dahulu. Adalah tidak mungkin memberikan kepada orang sesuatu yang tidak kita miliki.

Semoga Abi–kalau membaca ini–sudah jauh lebih faham daripada pada waktu jawaban ini disampaikan kepadanya.

By Dodi Kurniawan

Tugas Ramadhan

Untuk tugasa mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab, silahkan lihat di Halaman PAI dan Bahasa Arab sub halaman Tugas.  Selamat mengerjakan!

By Dodi Kurniawan